Azas Utama

Ketika Islam dipahami dengan akal pikiran masing-masing orang…

Ketika Al-Qur’an dan Sunnah ditafsirkan dengan pemahamannya sendiri-sendiri…

Maka, apa yang akan terjadi??…

Carut marut… Islam warna-warni… karena umat tidak bisa bersatu.

Rasulullah telah memberikan tuntunan, betapa agama ini tidak boleh dipahami berdasarkan kehendak masing-masing individu. Islam harus dipahami selaras dengan apa yang telah diaplikasikan oleh generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-taubah:100)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (generasi) pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian generasi berikutnya.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mencela shahabat-shahabatku, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq dengan emas sebesar gunung uhud, tidak dapat menyamai (pahala) satu mud infaq mereka, tidak pula setengahnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham?” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan lainnya dari Al-‘Irbadh bin Sariyah, lihat Irwa`ul Ghalil no. 2455)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya: “Siapa dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “(golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada (di atasnya).” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash)

Al-Imam Al-Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri hal. 63)

Muhammad bin Sirrin berkata : “Orang-orang terdahulu mengatakan, sesungguhnya mereka (berada) di atas jalan yang lurus selama mereka meniti atsar (riwayat salafush shalih).” (Al Muntaqa min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah hal. 42, no. 36)

Al-Imam Al-Ashbahani berkata: “Barangsiapa menyelisihi shahabat dan tabi’in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya.” (Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah 2/437-438)

Al-Imam Asy-Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah kesesatan.” (Al-Muwafaqat 3/284)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar.” (Majmu’ Fatawa 4/155). Beliau juga berkata: “Bahkan syi’ar ahlul bid’ah adalah meninggalkan manhaj salaf.” (Majmu’ Fatawa 4/155)

Imam Syafi’I berkata: “Selama ada Al Kitab dan As-Sunnah, maka alas an terputus atas siapa saja yang telah mendengarnya, kecuali dengan mengikuti keduanya. Jika hal itu tidak ada, kita kembali kepada perkataan-perkataan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau salah satu dari mereka.” (Dinukil dari Manhaj As-Salafi’ inda Syaikh Nashiruddin Al-Albani, hal.36)

Imam Ahmad rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata:

“Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Al-Mustadrak, Imam al-Hakim, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.)

Kepada merekalah pemahaman agama itu disandarkan. Karena kalau tidak, Islam akan tinggal nama dan miskin dari esensi ajaran yang murni. Islam sekedar label, sementara pikiran, sikap atau tindak tanduk amal pemeluknya justru lebih mengedepankan pada sesuatu yang bersandar akal, adat atau semangat spiritualisme yang membabi buta dengan bumbu-bumbu bid’ah dan syirik. Nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah ditinggalkan. Kalaupun dijadikan rujukan, penafsirannya terkadang dicocok-cocokkan dengan kondisi saat itu yang sekiranya bisa menguntungkan dan mengangkat popularitas yang bersangkutan.

Karena itu, proses pemurnian terhadap nilai-nilai yang diajarkan kepada umat harus terus digalakkan. Meskipun, proses penanaman nilai-nilai Islam yang murni itu, berhadapan dan bergesekan dengan nilai-nilai adapt atau budaya yang sudah tertanam kuat di tengah masyarakat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan pintu hidayah, karunia dan rahmatNya bagi kita semua dan selalu membimbing kita di atas jalanNya yang lurus, mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: