WAJAH DEMOKRASI

Konon demokrasi merupakan paduan dua kata: demos berarti rakyat dan kratein berarti berkuasa. Dengan demikian demokrasi diartikan kuasa rakyat, people’s power atau kekuasaan di tangan rakyat, dimana rakyat berperan serta langsung menentukan arah kebijakan negaranya dengan memilih wakil yang dia kehendaki secara bebas. Dari sini Nampak bahwa suara (aspirasi) individu diberi peluang seluas-luasnya. Konsekwensi dari prinsip ini adalah pengambilan keputusan-keputusan politik dan selainnya didasarkan pada suara mayoritas rakyat. Konsekwensi lain, setiap individu tidak dilarang melakukan aktifitas apapun selama tidak melanggar undang-undang. Maka realita semacam aborsi, hubungan lawan jenis tanpa nikah (zina/kumpul kebo), pindah agama (murtad), perkawinan sesama gay dan lesbian dilegalkan. Inilah diantara prinsip-prinsip demokrasi yang tidak akan hidup di suatu masyarakat yang meyakini agama apapun, apalagi agama Islam.

Namun prinsip tersebut ternyata tidak langgeng dan murni meski hidup di negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi seperti Amerika, Perancis dan negara0negara lain. Artinya mereka tidak benar-benar menjalankan prinsip demokrasi tersebut, apalagi bila bertabrakan dengan kebijaksanaan politik. Agresi ke Afghanistan, Irak, pembelaannya kepada zionis Yahudi merupakan bukti kebobrokan dan kepalsuan Amerika dan sekutunya. Adapun Perancis, yang notabene negara pencetus dan perintis demokrasi dengan slogan yang terkenal itu; liberte, egalite dan fraternite yang berarti kebebasan, persamaan dan persaudaraan, justru memperkosa diri mereka sendiri, dengan mengundangkan larangan simbol-simbol keagamaan (istilah mereka), termasuk jilbab bagi kaum muslimah di sekolah-sekolah dan kantor-kantor pemerintah. Ini jelas pengingkaran terhadap prinsip demokrasi yang mereka anut, dimana setiap individu diakui hak-hak mereka. Terlebih, jilbab bagi muslimah bukanlah semata-mata simbol keagamaan sebagaimana dilontarkan pulaoleh sementara intelektual negeri ini, tetapi merupakan kewajiban agama. Menteri dalam negeri Perancis berdalih pelarangan jilbab ini untuk meredam pertikaian antara kaum muslimin dan orang-orang Perancis, sedang Perdana Menteri beralasan larangan ini untuk menjaga kelestarian sekulerisme dan melindungi dan melindungi para wanita dari sikap radikalisme. Alasan tersebut jelas-jelas dicari-cari, sebab pemakaian jilbab sejak awal tidak pernah menimbulkan gesekan apalagi pertikaian antar penduduk Perancis dan tidak bakalan memeantik radikalisme. Pelarangan serupa juga ditetapkan oleh Singapura sehingga para pelajar yang komitmen denganjilbab terpaksa mengungsi belajar ke Malaysia.

Yang patut disayangkan, banyak kaum muslimin termasuk intelektualnya justru ramai-ramai mengkampanyekan demokrasi, dengan alasan demokrasi tidak seluruhnya bertentangan dengan Islam. Ada beberapa prinsip yang selaras dengan Islam. Jadi penolakan demokrasi secara total adalah sikap keliru. Pendapat ini patut dipertanyakan. Demokrasi adalah suatu sistem yang memiliki prinsip-prinsip yang integral dan sistem ini bertentangan sekali dengan Islam. Demokrasi mendasarkan keputusan pada suara mayoritas, sedang Islam menetapkan bahwa hukum itu hanya milik Alloh, bukan suara mayoritas. Demokrasi memperbolehkan seseorang untuk murtad, keluar dari Islam sedang syari’at Isalm mengatakan,”Siapa yang murtad maka bunuhlah!” dan kontradiksi- kontradiksi lainnya.

Misalkan ada beberapa prinsip demokrasi yang selaras dengan Islam, apakah serta-merta demokrasi itu sesuai dengan Islam, sehingga dibolehkan adanya istilah demokrasi Islami? Tidakkah cukup bagi kita berpegang dengan syari’at Islam yang katanya sesuai dengan demokrasi tadi, bukannya mengadopsi prinsip demokrasi dengan mencampakkan Islam atau mencampur Islam dengan demokrasi sehingga nampak samar-samar! Tambahan lagi, beberapa negara yang berazas demokrasi terang-terangan melanggar demokrasi, tetapi justru orang muslim memperjuangkan demokrasi? Alhasil kita harus lebih percaya dan yakin dengan Islam tanpa embel-embel anasir (unsur) non Islam serta mengimplementasikannya sesuai kemampuan. Adapun demokrasi, lantaran produk manusia (kafir) pasti tidak akan mendatangkan kemaslahatan, tetapi justru memantik kericuhan dimana-mana, apakah tidak lebih pantas bila disebut democrazy (unjuk kegilaan). Allâhu a’lam.

Diambil dari Majalah AL-FURQON Edisi 7 Tahun III / Shofar 1425 H

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Lucida Handwriting”; mso-font-alt:”Courier New”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0in; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:16.0pt; font-family:Arial; mso-font-kerning:16.0pt;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: