Hujan, Antara Nikmat dan Azab

Taqdim
Allah azza wa jalla menjalankan angin atau mendatangkan mendung sebagai tanda akan turunnya hujan. Namun suatu ketika Allah azza wa jalla menakdirkan angin dan mendung itu sebagai ujian dan hukuman bagi manusia.

Untuk itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana menyambut datangnya nikmat Allah berupa hujan. Bagaimana ibadah-ibadah di musim tersebut, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui pembahasan ini diharapkan kita tidak salah dalam menyambutnya serta mendapat pahala dari setiap amalan yang kita lakukan.

Dari Aisyah berkata apabila Rasulullah melihat mendung atau angin (kencang) terlihat (perubahan) di wajahnya, lalu beliau bertanya, “Wahai Rasulullah aku lihat manusia bergembira ketika melihat mendung karena berharap akan turun hujan, tetapi aku lihat engkau ketika melihatnya (mendung) aku mengetahui dari wajahmu engkau tidak menyukainya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, tidak ada yang memberi keamanan aku akan datangnya adzab (kecuali Allah) yang telah mengadzab suatu kaum dengan angin (kencang), padahal kaum tersebut melihat adzab itu lali mereka mengatakan, “Ini hanya mendung yang akan menurunkan hujan kepada kami (padahal itu adalah adzab Allah).

Air Hujan Thohur (Suci dan Menyucikan)
Firman Allah azza wa jalla (yang artinya):
Dan Kami turunkan dari langit air yang suci dan menyucikan.” [QS.al-Furqon (25): 48]

Jika seseorang ragu terhadap sesuatu yang terkena air hujan maka hukum asalnya adalah suci, adapun sekedar keraguan yang muncul di benak seseorang, maka tidak dapat menghilangkan kepastian sucinya yang telah diyakini keberadaannya.

Demikian juga pakaian atau sesuatu yang lain jika terkena lumpur dari air hujan, pakaian tersebut tetap suci tidak wajib dicuci. Dibolehkan sholat dengan bekas lumpur yang ada dipakaian. Para tabi’in mengatakan: “Mereka (para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) terkena air dan lumpur sebab hujan, mereka masuk masjid dan melaksanakan sholat (tanpa berwudhu dan mencuci bekas lumpur air hujan).” [Mushonnaf Abdur Razzaq: 93 dan 96]

Menyempurnakan Wudlu Menghapus Dosa
Menyempurnakan wudlu ketika dingin atau musim penghujan termasuk penghapus dosa. Sebagaimana dalam hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Adapun penghapus-penghapus dosa adalah menyempurnakan wudlu saat ’sabarot’ (sangat dingin)[1] Menunggu shalat setelah shalat, dan melangkahkan kaki menuju (shalat) jama’ah.” [2]

Boleh Mengusap Kaus Kaki Sebagai Pengganti Mencuci Kaki[3]
Musim hujan atau musim dingin terkadang membuat manusia enggan melepas kaus kakinya, maka dalam hal ini dibolehkan bagi yang hendak sholat dengan menggunakan kaus kaki untuk mengusap bagian atasnya saja sebagai ganti mencuci kaki, dan tidak perlu bersusah payah melepaskannya untuk mencuci kakinya, tetapi hal ini disyaratkan ketika memakainya, dia dalam keadaan suci, sebagaimana dalam sebuah hadits (yang artinya):
“Dari Mughirah bin Su’bah berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengusap bagian atas dua kaus kakinya.” [HR.Ahmad: 2/252, Abu Dawud: 159, An Nasa'i: 125, dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa' al-Gholil: 1/137]

Kaum Laki-Laki Boleh Tidak Berjama’ah Di Masid Ketika Hujan
Turunnya hujan menjadi rukhshoh (keringanan)[4] bagi kaum laki-laki untuk tidak shalat berjama’ah di masjid, hal ini lantaran terdapat kesulitan bagi kaum muslimin untuk mendatangi masjid berulang kali ketika hujan, sebagaimana dalam sebuah hadits, Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata (yang artinya):
Kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah, lalu kami mendapati hujan, maka Rasulullah bersabda, “Hendaklah melakukan sholat ditempatnya bagi yang berkehendak.” [HR.Muslim 1636]

Imam Ibnu Hibban rahimahullah berkata dalam salah satu bab yang ditulisnya: “Penjelasan bahwa perintah untuk sholat di tempat masing-masing (bukan di masjid) ketika hujan adalah perintah yang bersifat tidak mengikat, dalam artian boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan.”[5]

Baca selebihnya »

Hukum Merayakan “Valentine’s Day”

Hari ‘kasih sayang’ yang dirayakan oleh orang-orang Barat pada tahun-tahun terakhir yang disebut “Valentine’s Day” amat populer dan merebak di berbagai pelosok Indonesia. Terlebih lagi di saat menjelang bulan Februari di mana banyak kita temui simbol-simbol atau iklan-iklan tidak syar’i demi mewujudkan dan mengekspos (mempromosikan) hari Valentine. Berbagai tempat hiburan bermula dari diskotik, hotel-hotel, organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok kecil, mereka berlomba-lomba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Dengan dukungan (pengaruh) media massa seperti surat kabar, radio, televisi, dan yang lainnya. Sebagian besar kaum muslimin juga turut dicekoki (dihidangkan) dengan berbagai slogan dan iklan-iklan Valentine’s Day.

Baca selebihnya »

Sejarah Valentine

The World Book Encyclopedia ( 1998 ) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day :
“Some trace it to an ancient Roman festival called Lupercalia. Other experts connect the event with one or more saints of the early Christian church. Still others link it with an old English belief that birds choose their mates on February 14. Valentine’s Day probably came from a combination of all three of those sources–plus the belief that spring is a time for lovers.”

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Baca selebihnya »

Agar Buah Hati Tak Lagi Takut Hantu

Penulis: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”

Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.

“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”

“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.

Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.

Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

Baca selebihnya »

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku Tercinta

Suatu ketika seorang akhowat tengah duduk bersama beberapa temannya mengerjakan tugas kuliah. Tak jauh dari mereka, duduk pula seorang teman. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Sang akhowat terheran-heran melihat temannya. Telah satu jam lebih ia duduk tanpa melakukan apapun kecuali ia tampak berkonsentrasi penuh menghafalkan sesuatu yang tertulis dalam kertas yang dipegangnya. Ketika rasa ingin tahunya tak terbendung lagi akhowat tersebut pun bertanya, apakah gerangan yang ia hafalkan? apakah yang tertulis dalam kertas tersebut? Betapa kagetnya ketika ia dapati isi kertas tersebut adalah syair lagu-lagu (musik). Astagfirullah… wal ‘iyyadzubillahi min dzalik.

Baca selebihnya »

Surat Cinta untuk Saudariku (2)

Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?

Saudariku,
Apalagi yang menghalangi kita dari syari’at yang mulia ini?
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari’at ini?
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?

Baca selebihnya »

Surat Cinta untuk Saudariku (1)

Penulis: Ummu Sa’id
Muroja’ah: Ustadz Subkhan Khadafi

Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.

“Mmm… yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen sama rok…”

Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan terus memperbaiki diri.

Saudariku,
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.

Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.

Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.

Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini…
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.

Baca selebihnya »

Akal dan Agama Mana yang Mengatakan Ngebom Itu Jihad?!

Beberapa tahun yang silam pernah terjadi pengeboman dan perusakan di kota Riyadh, saat itulah Syeikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr angkat suara, “Alangkah miripnya kata tadi malam dengan semalam. Sesungguhnya peristiwa pemboman dan perusakan di kota Riyadh dan senjata-senjata lain yang digunakan di kota Makkah maupun Madinah pada awal tahun ini (1424 H, sekitar tahun 2003) merupakan hasil rayuan setan yang berupa bentuk meremehkan atau berlebih-lebihan dalam beragama. Sejelek-jeleknya perbuatan yang dihiasi oleh setan adalah yang mengatakan bahwa pengeboman dan perusakan adalah bentuk jihad. Akal dan agama mana yang menyatakan membunuh jiwa, memerangi kaum muslimin, memerangi orang-orang kafir yang mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin, membuat kekacauan, membuat wanita-wanita menjanda, menyebabkan anak-anak menjadi yatim, dan meluluhlantakkan bermacam bangunan sebagai jihad(?)”

Baca selebihnya »